Properti Rebound, Gapura Prima Persiapkan Proyek Menengah-Bawah

Untuk menggairahkan pasar properti nasional, pemerintah semestinya memberikan insentif pajak bagi properti kelas menengah - bawah.

Rudy Margono - Gapura Prima Group - bellevue place - anto erawan - rumahhokie - dok
Rudy Margono, President Director Gapura Prima Group (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Bisnis properti Tanah Air diprediksi akan membaik tahun depan. Kebijakan pemerintah, seperti pelonggaran LTV (loan to value), ditengarai menjadi salah satu pemicu.

Secara nasional, industri properti di 2019 diprediksi bisa tumbuh sekitar 10% – 20%. Demikian penuturan Rudy Margono, President Director Gapura Prima Group saat ditemui di sela acara Grand Launching Apartemen Bellevue Place MT Haryono, Sabtu (24/11/2018).

Baca Juga: Gelar Grand Launching, Gapura Prima Group Perkenalkan Show Unit Bellevue Place

Selain itu, Rudy melihat bisnis properti sudah terlalu lama naik, sehingga memang sudah saatnya naik.

Dia berpendapat, untuk menggairahkan pasar properti nasional, pemerintah semestinya memberikan insentif pajak untuk properti kelas menengah bawah.

Baca Juga: Gapura Prima Luncurkan Tahap ke-2 Apartemen Bailey’s City

“Misalnya, saat ini PPN mencapai 10%, PPh untuk developer 5%, sedangkan untuk konsumen 5%. Bila pajak-pajak ini diturunkan 50% saja, maka pasar properti pasti lebih bergairah,” paparnya.

Di sisi lain, Rudy juga menilai ajang Pemilu tak terlalu berpengaruh pada pasar properti, terutama pada konsumen end-user.

Siapkan Proyek Menengah-Bawah
Rudy Margono melihat properti akan rebound tahun depan, terutama untuk kelas menengah bawah. Untuk itu, kami juga sedang mempersiapkan beberapa proyek di kelas itu, yang tentunya lebih terjangkau,” jelas Rudy.

Saat ini, imbuhnya, untuk kelas menengah bawah, Gapura Prima Group tengah mengembangkan BTC City di Bekasi Timur.

Baca Juga: Potensi Investasi Apartemen di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi

“Kami juga sedang mempersiapkan dua proyek apartemen baru, yakni di outer ringroad Cengkareng dan kawasan Pakuan, Bogor. Di Cengkareng kami akan bangun apartemen seharga Rp200 jutaan, sementara di Bogor akan dibangun apartemen dengan harga Rp180 juta yang membidik pasar mahasiswa,” urai Rudy.

Untuk perumahan, jelasnya, Gapura Prima Group masih memiliki landbank di daerah Cilegon dan Bogor. Kedua proyek ini masih dalam proses persiapan dan pengurusan izin.

Baca Juga: Di Bodetabek, Hunian Vertikal Bersaing Ketat dengan Rumah Tapak

Lebih lanjut, Rudy juga mengeluhkan birokrasi perizinan yang masih panjang. Bahkan ada proyek yang IMB-nya baru keluar setelah lima tahun

“Di luar negeri, tanah yang sudah masuk RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) tidak usah lagi mengurus Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dan Analisis Dampak Lalu lintas (Andalalin),” ujarnya.

Pajak Bikin Investor “Wait and See”
Kendati melihat sinyal positif, Rudy mengatakan pengembang properti tetap harus kreatif dan menyesuaikan produk dengan keinginan pasar.

“Investor masih ‘wait and see’ karena pajak. Dulu orang bisa punya sepuluh properti, tapi setelah tax amnesty, mereka mesti lapor properti termasuk dari mana sumber pendapatannya,” jelas Rudy.

Baca Juga: Perumahan untuk Generasi Milenial Butuh Regulasi Khusus

Sementara itu, imbuhnya, pelonggaran terhadap PPnBM (Pajak Penjualan Atas Barang Mewah) yang menaikkan threshold dari Rp20 miliar menjadi Rp30 miliar tidak berdampak signifikan.

“Penerapan PPnBM untuk rumah mewah, secara umum pengaruhnya tidak besar, karena memang pasarnya tidak banyak. Pengembang yang membuat proyek seharga Rp20 miliar per unit bisa dihitung dengan jari,” katanya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda