Proyek Mixed-Use dan High Rise: Sumber Pendapatan Terbesar Intiland

pendapatan usaha Intiland selama ini ditopang dari empat segmen pengembangan: mixed-use & high rise, kawasan perumahan, kawasan industri, dan properti investasi.

kantor intiland - rumahhokie - anto erawan - dok
Foto: Dok. Anto Erawan - RumahHokie.com

RumahHokie.com (Jakarta) –  Berdasarkan hasil laporan keuangan kuartal I 2019 yang berakhir 31 Maret 2018, PT Intiland Development, Tbk (Intiland; DILD) membukukan pendapatan usaha Rp887,6 miliar, atau naik sebesar 25% dibandingkan kuartal I 2018 yang mencapai Rp709,2 miliar.

Baca Juga: Kolaborasi Intiland-Menara Prambanan, Poins Square Masuki Era Baru

Archied Noto Pradono, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland menjelaskan, pertumbuhan pendapatan usaha terutama berasal dari peningkatan pengakuan pendapatan dari segmen pengembangan mixed-use & high rise, seiring progres sejumlah proyek di Jakarta dan Surabaya, seperti Fifty Seven Promenade, Graha Golf, dan The Rosebay.

“Pembangunan beberapa proyek mixed-use & high rise akan selesai tahun ini. Kami berharap pasar properti dapat tumbuh positif dan minat beli konsumen dan investor cepat kembali pulih,” kata Archied dalam siaran pers yang diterima RumahHokie.com.

Empat Segmen Pengembangan
Archied Noto Pradono menjelaskan, pendapatan usaha Intiland selama ini ditopang dari empat segmen pengembangan: mixed-use & high rise, kawasan perumahan, kawasan industri, dan properti investasi.

Segmen pengembangan mixed-use & high rise tercatat sebagai kontributor pendapatan usaha terbesar, yakni mencapai Rp523,4 miliar atau 59% dari total pendapatan perseroan. Pendapatan usaha tersebut melonjak 165% dibandingkan kuartal I tahun lalu sebesar Rp197,4 miliar.

Baca Juga: Lewat #LivingConnected, Intiland Kampanyekan Penggunaan Transportasi Publik

Kontributor terbesar selanjutnya berasal dari segmen properti investasi yang mencatatkan pendapatan usaha Rp157,1 miliar (18% dari total pendapatan). Segmen yang merupakan sumber pendapatan berkelanjutan (reccuring income) ini meningkat 13% dibandingkan kuartal I 2018 sebesar Rp138,5 miliar.

Dari segmen pengembangan kawasan perumahan, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp144,7 miliar (16%). Perolehan dari segmen ini mengalami penurunan 61% dibandingkan Rp373,3 miliar di periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Terjual 86%, Intiland Gelar Topping Off Kondominium Graha Golf Surabaya

Pendapatan usaha berikutnya bersumber dari pengembangan kawasan industri yang menyumbang Rp62,4 miliar (7%). Kontribusi pendapatan dari segmen ini berasal dari penjualan lahan industri yang dimiliki perseroan di Ngoro Industrial Park, Mojokerto, Jawa Timur dan pergudangan di Aeropolis.

“Secara umum pendapatan usaha meningkat, baik yang berasal dari development income maupun reccuring income. Kontributor terbesar masih dari development income yang mencapai Rp730,5 miliar atau 82% dari total pendapatan,” jelas Archied.

Baca Juga: Intiland dan BNI Syariah Sediakan Perumahan Buat Pengemudi Grab

Segmen properti investasi yang merupakan sumber pendapatan berkelanjutan (recurring income) bagi perseroan memberikan kontribusi sebesar 18% atau Rp157,1 miliar. Perolehan tersebut naik sekitar 13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar RpRp138,5 miliar.

“Kontribusi recurring income mengalami peningkatan terutama ditopang oleh naiknya pendapatan dari pengelolaan sarana dan prasarana, perkantoran sewa, dan Kawasan industri. Kami percaya kontribusi recurring income akan terus meningkat, seiring dengan penyelesaian beberapa proyek pengembangan mixed-use,” kata Archied.

Laba Bersih Rp48,4 Miliar
Meningkatnya pendapatan usaha secara langsung memberi pengaruh positif terhadap kinerja profitabilitas. Di kuartal I tahun ini, perseroan berhasil membukukan laba kotor Rp313 miliar dan laba usaha Rp156,2 miliar.

“Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, masing-masing meningkat sebesar 10,4 persen dan 13,4 persen,” kata Archied.

Baca Juga: Intiland Tak Terpengaruh Walau Nilai Tukar Dolar Merangkak Naik

Namun demikian, kendati laba kotor dan laba usaha tumbuh secara positif, namun laba bersih perseroan mengalami penurunan. Perseroan mencatatkan perolehan laba bersih Rp48,4 miliar, turun dibandingkan kuartal I 2018 sebesar Rp112,8 miliar.

“Penurunan laba bersih terutama disebabkan oleh meningkatnya beban bunga di tiga bulan pertama tahun ini,” ujarnya lebih lanjut.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda