Real Estat Indonesia: Perbankan Tidak Pro Industri Properti

Sektor perpajakan ditengarai menjadi hambatan psikologis yang membuat sektor properti menjadi lesu.

buka puasa bersama DPP REI - Media - rumahhokie - anto erawan - dok
Suasana buka puasa bersama DPP REI dan Media (Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (DPP REI) belum lama ini mendapat kesempatan bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara guna membahas beberapa hal terkait properti.

Soelaeman Soemawinata, Ketua Umum DPP REI menuturkan, dalam kesempatan tersebut, Jokowi sempat menanyakan kondisi properti Tanah Air yang menurutnya tengah lesu.

Menanggapi Presiden, Soelaeman menjelaskan, ada sektor properti yang terdampak dan tak terdampak kondisi makro ekonomi nasional.

Baca Juga: Inilah Tiga Kendala Perumahan Rakyat Versi Presiden Jokowi

“Perumahan subsidi untuk MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) tidak terpengaruh kondisi makro ekonomi yang lesu akibat melemahnya nilai tukar Rupiah atau meningkatnya suku bunga. Di sektor ini, pajak jelas, keuangan jelas, tantangannya hanya pada sisi perizinan,” papar Soelaeman dalam acara Buka Puasa Bersama DPP REI dan Media, Senin (4/6/2018).

Di sisi lain, imbuhnya, sektor properti yang terdampak adalah rumah non-subsidi dan produk properti non perumahan, seperti perkantoran, pusat belanja, dan lain-lain.

“Sebenarnya kondisi sudah membaik dan terjadi peningkatan di akhir 2017 lalu, namun di kuartal kedua 2018 ini, Rupiah bergejolak sehingga Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga,” kata pria yang akrab disapa Eman ini.

Pajak: Kendala Psikologis
Kepada Presiden Joko Widodo, Soelaeman menyoroti dua hal. Pertama masalah perpajakan. REI menyarankan kepada pemerintah agar tidak ada kebijakan perpajakan baru.

“Di awal 2017 ada wacana pajak untuk tanah telantar. Isu tersebut tidak muncul, tapi tak ada jaminan tak akan muncul lagi, karena pemerintah tidak jelas mengatakan pajak tersebut jadi dilaksanakan atau tidak. Hal ini membuat was-was pengembang,” urainya.

Sektor perpajakan juga ditengarai Eman menjadi hambatan psikologis yang membuat sektor properti menjadi lesu. Menurutnya, banyak ketidakjelasan di sisi perpajakan properti yang pada akhirnya membuat developer enggan mengembangkan proyek baru.

Baca Juga: REI Tingkatkan Kompetensi Pengembang untuk Sukseskan Program Sejuta Rumah

Kedua, kebijakan perbankan hanya tertuju kepada konsumen, tetapi tidak ada insentif kepada pengembang yang memproduksi rumah.

“Jadi percuma, karena harga tetap mahal, karena pengembang tak mendapat kemudahan dari perbankan, misalnya bunga kredit konstruksi yang masih berkisar 12% hingga 13%,” jelas Soelaeman. “Saat ini memang ada beberapa bank swasta yang menawarkan bunga kredit konstruksi 9%, sementara bank BUMN masih 12%.”

Tak hanya itu, bunga kredit konstruksi rumah MBR sama dengan rumah non MBR. Soelaeman mengusulkan agar bunga kredit konstruksi rumah MBR lebih rendah 3% sehingga lebih mempermudah pengembang rumah MBR.

Tidak Pro Industri Properti
Masih terkait suku bunga, semestinya bank bisa memberikan suku bunga kredit konstruksi yang lebih rendah, terutama saat suku bunga acuan rendah.

Di saat suku bunga acuan 4,5%, kredit konstruksi bisa mencapai 12%. Sekarang, saat suku bunga acuan akan dinaikkan, bunga kredit konstruksi terancam akan ikut naik.

“Jadi menurut saya, bank tidak pro industri properti. Mungkin pro industri lain, tetapi tidak industri properti,” tegas Soelaeman.

Baca Juga: Inilah Kendala Pembangunan Rumah Rakyat Menurut REI dan APERSI

Dengan kondisi yang lesu seperti ini, lanjutnya, pengembang terpaksa harus menurunkan margin keuntungan.

Eman mengatakan, margin pengembang ada tiga: pertama, eskalasi biaya, termasuk di dalamnya gaji karyawan; kedua, untuk membayar bunga pinjaman bank; ketiga, untuk melakukan investasi.

“Nah, sekarang sisi mana yang bisa dikorbankan? Kenaikan gaji karyawan dan investasi baru terpaksa ditunda, sementara pembayaran bunga bank tidak bisa ditunda,” katanya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda