Regulasi Baru Pemerintah Dinilai Hambat Program Sejuta Rumah

“Kami nggak mau asal-asalan membuat rumah, tetapi nggak bisa juga over budget untuk membangun rumah subsidi," kata Nurry Dalimonthe, Direktur MAS Group.

Nurry Dalimonthe, Direktur MAS Group (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Program Sejuta Rumah yang dibesut pemerintahan Presiden Joko Widodo sejak April 2015 silam ditengarai bakal mengalami hambatan. Pasalnya, sejumlah regulasi dinilai menjadi batu sandungan bagi program pro rakyat tersebut.

“Tahun depan, jika peraturan SLF (sertifikasi laik fungsi) diterapkan, maka banyak pengembang rumah subsidi yang kesulitan,” jelas Nurry Dalimonthe, Direktur MAS Group saat berbincang dengan RumahHokie.com.

Baca Juga: Sukseskan Sejuta Rumah, Pemerintah Jangan Buat Aturan Kontradiktif

Menurutnya, jika regulasi ini diberlakukan, dia yakin target satu juta rumah per tahun tak akan bisa tercapai.

“Dengan kondisi sekarang saja sulit (mencapai target sejuta rumah), paling hanya sekitar 800 ribu unit per tahun. Apalagi dengan aturan yang memberatkan ini,” tutur Nurry.

Dia mempertanyakan, jika SLF mau diterapkan, apakah lembaganya sudah disiapkan. Dari sisi biaya juga, SLF juga akan memberatkan, karena akan jadi komponen biaya perizinan.

Sebenarnya, papar Nurry, soal standarisasi bisa dilakukan melalui Laporan Pemeriksaan Akhir (LPA) yang dikeluarkan bank sebelum akad kredit. Kalau memang untuk standarisasi kualitas, sebaiknya pemerintah masuk dari asosiasi pengembangnya.

“Kami nggak mau asal-asalan membuat rumah, tetapi nggak bisa juga over budget untuk membangun rumah subsidi, karena untungnya sedikit. Dengan kondisi tanpa SLF saja masih sedikit pengembang yang mau bangun rumah subsidi,” urainya.

Baca Juga: Solusi Penyediaan Rumah Subsidi: Penyesuaian Harga atau Bank Tanah?

Sekretaris DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Banten ini juga mengungkapkan, organisasi developer yang fokus membangun rumah sederhana tersebut masih menunggu, apakah aturan SLF tersebut akan benar-benar dilaksanakan awal 2018 mendatang.

“Apersi ingin SLF tidak diberlakukan dulu, dan kami minta diajak diskusi dahulu,” katanya.

Kendala Perizinan
Selain SLF ada lagi wacana aturan pemerintah yang dianggap memberatkan, seperti persyaratan penerima subsidi rumah. Jika sebelumnya subsidi diterima per orang (kepala keluarga) dengan penghasilan maksimal Rp4 juta per bulan, sekarang dihitung per keluarga (pendapatan gabungan suami-istri) maksimal Rp7 juta per bulan. Subsidi bunga pun hanya lima tahun pertama, sisanya diberlakukan bunga komersial.

“Belum tentu dalam lima tahun, orang-orang ini sudah mampu mencicil dengan bunga komersial. Hal ini juga harus dipikirkan pemerintah,” kata Nurry.

Baca Juga: Apersi Banten Keluhkan Perizinan Pembangunan Rumah MBR

Di sisi perizinan, jelasnya, juga masih mengalami kendala. Perizinan hitungan hari bahkan jam yang diutarakan Presiden Jokowi saat pembukaan Indonesia Properti Expo (IPEX 2017) beberapa waktu lalu pun dianggap Nurry masih jauh dari kenyataan, setidaknya di daerah Tangerang yang menurutnya paling cepat memakan waktu tiga bulan.

“Sepertinya kebijakan perizinan dari pemerintah pusat tidak sinkron dengan pemerintah daerah. Mungkin pihak Kemendagri harus berbicara dengan pemerintah daerah untuk menangani masalah ini,” katanya.

Proyek Anyar MAS Group
Di penghujung 2017 ini, MAS Group meluncurkan proyek Bali Resort Bogor di kawasan Atang Sanjaya, Bogor dan Sutera Mediterania di Rajeg, Tangerang.

“Selain itu, kami juga masih memasarkan perumahan Grand Sutera Serang, Grand Sutera Cilegon, dan Grand Sutera Leuwiliang,” ungkap Nurry. “Dalam waktu dekat, kami juga akan mengembangkan perumahan subsidi Grand Sutera Mekarsari sebanyak 400 unit.”

Baca Juga: Survei IPW: Penjualan Rumah di Banten Terjun Bebas

MAS Group pun tengah berkonsentrasi mengembangkan Kota Sutera Tangerang. Perumahan yang berada di Jalan Raya Cadas Kukun, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang tersebut memiliki total area 250 hektar dan digadang bakal menjadi kota mandiri.

“Pada tahap awal, kami menawarkan Cluster Blossomville dengan area seluas 30 hektar. Harganya berkisar Rp400 jutaan per unit,” pungkas Nurry.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda