Relaksasi LTV Dinilai Akan Bangkitkan Sektor Properti Perumahan

Penurunan Loan to Value (LTV) yang dilakukan oleh BI dianggap akan berdampak di tahun ini pada sektor properti di level menengah-bawah.

Colliers International, Loan to Value, LTV Bank Indonesia
Pameranrumah subsidi di IPEX 2020 di JCC, Senayan, Jakarta. (Foto: Adhitya Putra - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Pada Februari 2020, Bank Indonesia (BI) kembali melakukan relaksasi terhadap BI-7 Days Reverse Repo Rate, sehingga saat ini suku bunga acuan berada pada level 4,75% dari sebelumnya 5% pada Januari lalu.

Menurut pendapat sejumlah pihak, penurunan Loan to Value (LTV) oleh BI akan terasa dampaknya di tahun ini.

Namun, apakah dampak penurunan LTV bisa mendongkrak pertumbuhan sektor properti Tanah Air yang masih melambat?

Melansir dari laporan konsultan properti global, Colliers International, Sabtu (21/02/2020), memperkirakan penurunan LTV akan cukup membangkitkan minat pembeli pada properti dengan harga terjangkau dan memiliki uang muka yang relatif mudah.

Baca Juga: Pasar Properti Asia Menguat, Meski Diterpa Ketidakpastian Geopolitik

“Dampak (penurunan) Loan to Value pada sektor properti belum menjadi terbukti. Akan tetapi begitu BI mulai menurunkan suku bunga pinjaman, kami percaya ini akan mempercepat pertumbuhan sektor properti,” jelas Colliers.

Dengan relaksasi LTV menjadi 4,75%, Colliers melihat juga akan membantu mengangkat volume transkasi properti di segmen menengah-bawah.

“Kami berharap melihat pertumbuhan bertahap terjadi di sektor perumahan. Maka untuk mendorong transaksi pada properti ini, para developer bisa menyediakan angsuran bulanan dan uang muka yang lebih rendah,” ujar konsultan real estat itu menyarankan.

Baca Juga: Pelonggaran LTV Disinyalir Belum Bisa Mendongkrak Industri Properti

Colliers melihat ada banyak bukti bahwa end user cenderung mendominasi produk properti hunian di kelas menengah-ke bawah.

Sedangkan, untuk pembeli dari kalangan investor cenderung lebih menyukai proyek apartemen kelas menengah-ke atas.

Meski demikian, lebih lanjut Colliers mengemukakan bahwa secara umum penjualan apartemen di Tanah Air berjalan masih lambat.

Baca Juga: Segmen Menengah Kuasai Pasar Perumahan di Jabodetabek

“Proyek-proyek apartemen yang berfokus pada konsep Transit Oriented Development (TOD) pun sedang mengalami masa-masa sulit. Akan tetapi, umumnya TOD cukup populer di antara calon pembeli,” papar konsultan properti tersebut.

Saat ini, menurut Colliers konsumen kurang termotivasi untuk berinvestasi. Hal itu disebabkan calon pembeli apartemen masih menilai bahwa imbal hasil (rental yield) apartemen tergolong rendah serta resiko tingkat okupansi yang masih tertekan.

“Imbal hasil apartemen rendah, sekitar 4% hingga 5%. Bahkan dengan angka-angka ini, masih ada risiko ruang kosong, dan tidak di kategori menengah-atas saja, tetapi juga di pasar apartemen secara keseluruhan,” tandas Colliers.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda