Ruang Ritel Jakarta: Suplai Tipis Mengerek Tingkat Okupansi

JLL mencatat pasokan ruang ritel yang masuk ke pasar Jakarta di 2016 berkisar 100.000 m2 yang membuat total pasokan menjadi 2,88 juta m2.

Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com

RumahHokie.com (Jakarta) – Pasokan ruang ritel di Ibukota Jakarta terlihat masih tipis. Hal ini terjadi akibat kebijakan moratorium (pembatasan pembangunan) pusat belanja yang dilakukan Pemerintah Daerah DKI Jakarta sejak 2012 lalu.

Terangkum dalam laporan Jakarta Property Market Update Kuartal IV-2016, Konsultan properti JLL mencatat, sebelum disahkannya regulasi tersebut hingga 2016, suplai ruang ritel baru di Jakarta rata-rata mencapai 138.000 m2 per tahun. Sementara pasokan baru pada kurun 2017 – 2021 hanya berkisar 27.000 m2.

James Taylor, Head of Research JLL Indonesia menjelaskan, di 2016 sendiri, pasokan ruang ritel yang masuk ke pasar Jakarta berkisar 100.000 m2. Pasokan baru ini membuat total ruang ritel di Jakarta bertambah menjadi 2,88 juta m2.

“Sementara itu, suplai ruang ritel yang akan masuk dalam beberapa tahun ke depan mencapai 140.000 m2,” jelas James dalam acara Media Briefing, Rabu (1/2/2017).

Baca Juga: Tren Pasar Properti Naik, Investor Asing Makin Melirik

Dari sisi segmentasi pasar, sektor kuliner (food & beverage) masih memiliki permintaan yang kuat, selain kosmetik dan entertainment. Sektor fast fashion (gaya busana yang mengikuti mode terkini), elektronik, dan peralatan rumah tangga masih memiliki peminat yang cukup banyak. Sementara, permintaan gerai ritel untuk barang-barang mewah dan fashion terbilang lemah.

Di 2016, total penyerapan ruang ritel Jakarta mencapai 70.000 m2, atau sedikit meningkat dibanding 2015. Pada rentang 2014 – 2016, rata-rata penyerapan ruang ritel berada di angka 62.000 m2.

Angka ini tentunya sangat rendah dibandingkan tingkat penyerapan rata-rata yang terjadi sebelum 2014 yang mencapai 166.500 m2 per tahun.

Okupansi Tetap Tinggi
Ke depan, JLL memprediksi tingkat okupansi ruang ritel Jakarta akan tetap tinggi. Hal ini disebabkan minimnya pasokan yang masuk ke pasar akibat moratorium.

Tingkat okupansi di 2017 diprediksi berada di angka 90% atau sama dengan 2016. Namun, okupansi bakal terus merangkak naik hingga menyentuh angka 95% di 2021.

Di sisi lain, harga sewa rata-rata untuk mal kelas atas diperkirakan terus merambat naik antara 5% – 6% per tahun. Sementara grafik kenaikan harga sewa rata-rata untuk mal kelas menengah dan menengah-bawah terlihat landai dengan perkiraan kenaikan berkisar 1% – 2% per tahun.

Harga sewa rata-rata untuk mal kelas menengah-bawah berkisar Rp250.000 per meter persegi per bulan, mal kelas menengah sekitar Rp320.000 per meter persegi per bulan, sedangkan mal kelas premium berkisar Rp620.000 per meter persegi per bulan.

Pengaruh e-Commerce
Maraknya perusahaan ritel yang berbasis daring belakangan ini, seperti Lazada, JD, dan Matahari Mall, membuat peta bisnis ruang ritel mengalami perubahan.

Local Director Strategic Consulting JLL, Herully Suherman menuturkan, e-commerce masih tergolong baru di Indonesa. Belanja online lebih diminati generasi muda yang tech savvy, namun sebagian orang lebih suka mendatangi mal dengan alasan lebih bebas memilih barang.

“Tak semuanya bisa tergantikan oleh online shop. Konsumen masih mengunjungi pusat belanja untuk hang out, entertainment, bersantai di gerai kuliner,” katanya.

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda