Salah Kaprah Pengembangan Kawasan Berbasis TOD di Jakarta

Hunian baru di tengah kota harus memiliki tata-guna lahan campuran (mixed-use), yang dapat digabungkan dengan pertokoan, kantor maupun pasar dan supermarket.

halte-bus-trans-jakarta-thamrin-jakarta-rumahhokie-anto-erawan
Hal bus Trans Jakarta di ruas Jalan Thamrin (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah semakin tingginya mobilitas masyarakat urban, dibutuhkan pendekatan yang komprehensif untuk pengembangan kota.

Konsep pembangunan harus sejalan dengan konsep mobilitas warga Jakarta yang disesuaikan terhadap sistem transportasi umum yang ada atau yang direncanakan. Konsep pembangunan ini disebut Transit Oriented Development (TOD).

Yoga Adiwinarto, Country Director The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia mengatakan, arah pengembangan yang berorientasi pada angkutan umum Transit Oriented Development (TOD) merupakan keharusan.

“Hunian-hunian baru di tengah kota harus memiliki tata-guna lahan campuran (mixed-use), yang dapat digabungkan dengan pertokoan, kantor maupun pasar dan supermarket,” urainya dalam acara diskusi yang dihelat Synthesis Development beberapa waktu lalu.

Konsep compact city dan transit oriented development (TOD) dinilai Yoga sangat bagus untuk transportasi perkotaan. Dalam konsep tersebut penataan ruang diorientasikan pada pusat-pusat pelayanan angkutan publik bukan pada jaringan jalanan, sehingga memudahkan perjalanan bagi masyarakat yang berjalan kaki atau menggunakan sepeda untuk menuju pusat transit.

“Dengan menerapkan TOD artinya kota berorientasi pada manusia (people oriented city) bukan berorientasi pada kendaraan atau mobil (car oriented city). Jadi, prioritas pembangunan untuk mempermudah pejalan kaki, pesepeda, dan pengguna kendaraan umum,” tutur Yoga.

Champs-Élysées-paris-wikipedia-rumahhokie-dok
Kawasan Champs Elysee, Paris (Foto: Wikipedia)

Ruas Jalan di Jakarta Kurang?
Sebagai Ibukota negara, Jakarta tentu mendapat perhatian khusus. Ada sembilan sistem transportasi massal yang dikembangkan di wilayah Jabodetabek.

Sebut saja light rail transit (LRT) yang dikembangkan Pemprov DKI Jakarta, LRT Kementerian Perhubungan, LRT Jababeka, mass rapid transit (MRT), kereta api bandara, kereta cepat, automatic people mover system (APMS), commuter line, hingga bus rapid transit (BRT).

Kendati demikian, imbuh Yoga, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk menata ulang kawasan di sekitar koridor angkutan massal, antara lain memperkecil ukuran blok bangunan, memberi fasilitas bagi pejalan kaki menerus, memberi lajur dan parkir khusus sepeda, dan meningkatkan kepadatan populasi dengan bangunan mixed-use.

“Hal ini hanya bisa dilakukan dengan regulasi dari pemerintah daerah,” tukasnya.

Menanggapi pendapat sebagian orang yang mengatakan pertumbuhan ruas jalan di Jakarta masih kurang dan tak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan bermotor, Yoga memiliki jawaban sendiri.

“Pengaturan bangunan di Jakarta kurang bersahabat untuk pejalan kaki. Gedung-gedung dipagar dan tidak bisa diakses dari gedung yang ada di sebelahnya,” paparnya.

Dia membandingkan lebar Jalan Gatot Subroto, Jakarta dengan Champs Elysee, Paris.

“Dengan lebar sama, 65 meter, Champs Elysee menerapkan GSB (garis sempadan jalan) yang benar dan gedung-gedung tidak menggunakan pagar sehingga dapat diakses oleh pejalan kaki,” kata Yoga.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

 

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda