Salah Kaprah Istilah Mixed-Use dan Superblok

Banyak orang salah kaprah mengidentikkan proyek mixed-use dengan superblok. Padahal keduanya merupakan dua istilah yang berbeda.

kawasan perkantoran dan apartemen epicentrum kuningan - rumahhokie - by anto erawan

RumahHokie.com (Jakarta) – Banyak orang salah kaprah mengidentikkan proyek mixed-use dengan superblok, sebagai proyek properti yang memiliki beberapa fungsi: hunian, komersial, perkantoran, dan lain-lain. Padahal keduanya merupakan dua entitas yang berbeda.

Lantas, apakah perbedaan antara istilah mixed-use dengan superblok?

Superblok (superblock) adalah konsep penataan ruang di perkotaan yang memaksimalkan fungsi lahan. Para ahli tata ruang menyebut konsep ini merupakan salah satu solusi pengembangan kota secara lebih efisien, baik energi, maupun penggunaan lahan.

Di lahan yang terbilang cukup terbatas tersebut, dibuat beberapa fungsi, seperti permukiman, bisnis dan perdagangan, pendidikan, jasa, rekreasi, dan lain-lain.

Tinggal di sebuah superblok, para penghuni dapat memenuhi kebutuhan hidupnya di satu kawasan kecil, sehingga tingkat mobilisasi ke tempat yang jauh dapat dikurangi secara signifikan. Hal ini membuat kualitas hidup lebih baik, efisien, dan tentu saja hemat waktu, uang, dan energi.

Superblok mulai populer pada awal dan pertengahan abad ke-20. Konsep ini muncul dari ide-ide modernis dalam arsitektur dan perencanaan kota. Perencanaan arsitektur di era tersebut didasarkan pada perbandingan jarak dan waktu tempuh menggunakan mobil, berjalan kaki, dan sepeda.

Radiant City
Gagasan awal superblok dikemukakan oleh seorang arsitek dan urbanis asal Perancis, Le Corbusier pada 1924. Konsep tersebut dituangkan dalam sebuah proyek Ville Radieuse atau Radiant City.

Dalam konsep Ville Radieuse, Le Corbusier ingin mempersatukan kembali manusia dengan lingkungan. Desain kota ini didasari oleh bentuk tubuh manusia seperti kepala, tulang belakang, lengan, dan kaki.

Di kota impiannya ini, Le Corbusier menyatukan hunian-hunian vertikal dengan sirkulasi udara yang baik, serta ruang hijau yang banyak. Konsep ini memang tidak pernah terealisasi, akan tetapi telah mengilhami pengembangan superblok di berbagai negara.

Di Indonesia sendiri, konsep superblok mulai dikembangkan pada medio 1990-an. Beberapa contoh proyek yang tergolong sebaai superblok antara lain Rasuna Epicentrum, Mega Kuningan, dan Sudirman Central Business District (SCBD).

Satu Proyek, Beberapa Fungsi
Berbeda dengan konsep superblok yang menawarkan beragam fungsi di satu area—namun berbeda gedung—proyek mixed-use merujuk kepada bangunan multifungsi yang mampu mengakomodasi beberapa fungsi sekaligus, seperti hunian, pusat belanja, perkantoran, pendidikan, rekreasi, dan sebagainya.

Pembangunan proyek berkonsep mixed-use awalnya dipicu faktor industrialisasi serta teknologi gedung pencakar langit. Zonasi (zoning) diperkenalkan untuk mengatur pemisahan fungsi yang berbeda.

Kendati mulai dikenal pasca-perang dunia II, konsep mixed-use kembali menjadi tren di Amerika Serikat pada 1990-an.

Kelebihan Mixed-Use
Konsep multi-fungsi ini banyak dipilih karena memiliki beberapa kelebihan:

  1. Dapat menciptakan hunian (vertikal) dengan jenis dan tingkat kepadatan yang lebih besar.
  2. Dapat mengurangi jarak antara hunian, lokasi bekerja, pusat belanja, dan tujuan primer lainnya.
  3. Bangunan yang lebih kompak dan hemat lahan.
  4. Menciptakan lingkungan yang lebih berkarakter.
  5. Lingkungan yang ramah pejalan kaki dan pesepeda.

Penerapan bangunan jangkung dalam konsep mixed-use di lokasi strategis—seperti di pusat kota—diutamakan. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan pembangunan di lahan yang relatif kecil.

Dengan kondisi kota yang makin padat dan lahan kosong yang makin menyusut, konsep mixed-use dianggap sebagai strategi pembangunan yang tepat.

Di sisi lain, kemacetan yang makin parah membuat warga kota yang memerlukan efisiensi waktu—menuju kantor atau pusat perbelanjaan—memilih hunian di dalam proyek mixed-use.

Di Jakarta khususnya, bangunan mixed-use biasanya mengakomodasi hunian (kondominium) dan komersial (mal). Namun di beberapa proyek dengan skala lebih besar, bangunan jenis ini mengakomodasi beberapa fungsi lain, seperti perkantoran, hotel, bahkan sarana rekreasi.

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda