Savills Indonesia: Menghadapi Tahun Politik, Pasar Properti Tanah Air diprediksi Lesu

Di tengah kondisi pasar properti Tanah Air yang lesu, terdapat potensi dari minatnya para pengembang properti asing untuk berinvestasi.

(Foto: Adhitya - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Memasuki periode tahun politik, pasar properti Indonesia diprediksi akan mengalami kelesuan. Banyak pengembang properti sudah menyadari kondisi tersebutdan telah menyiapkan diri untuk menghadapinya.

Ditemui disela acara Savills Property Leaders Dialogue, forum bisnis dan networking stakeholder pasar properti Tanah Air, Lucy Rumantir, Senior Technical Advisor Savills Indonesia, menjelaskan dalam periode tahun 2018 hingga tahun 2019 mendatang pasar properti Tanah Air diprediksi mengalami kelesuan.

Baca Juga: Perpindahan Ibu Kota Hanya Wacana Atau Layak Direalisasikan?

“Secara keseluruhan tahun 2018 hingga tahun 2019, kondisinya (pasar properti) akan lesu. Karena adanya moment Pemilu Presiden. Semua pengembang sudah tahu itu. Para investor cenderung akan wait and see untuk menginvestasikan dananya,” ujarnya, Rabu (01/11/2017).

Lucy Rumantir menambahkan, kondisi yang sama juga diprediksi akan dialami pasar properti untuk proyek perkantoran. Perusahaan-perusahaan tidak akan ekspansi, namun mereka melakukan konsolidasi.

“Anjuran kita kepada para pengembang properti lokal maupun asing, mereka tak boleh diam saja. Seharusnya, ketika pasar properti sedang lesu, mereka mulai masuk dan mulai membangun. Nanti, ketika kondisi pasarnya pulih, proyek mereka sudah jadi dan siap dipasarkan,” kata Lucy.

Baca Juga: Tren Pasar Properti Naik, Investor Asing Makin Melirik

Walaupun kondisi pasar properti Indonesia sedang lesu, tak menyurutkan pengembang asing untuk berinvestasi di negeri ini.

Christopher J. Marriott, CEO Southeast Asia Savills Indonesia, mengatakan Indonesia masih menjadi pilihan investasi yang menarik. Hal itu tak terlepas dari Yield atau Imbal hasil di Tanah Air masih jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pasar properti global lainnya.

“Di tengah kondisi melemahnya pasar global, justru ketersediaan modal melimpah. Sumber-sumber pendanaan tersebut, tentu saja mencari pasar yang menawarkan yield lebih tinggi,” ujar Christopher.

Lucy menambahkan, saat ini untuk para pengembang asing memang masih banyak menyasar segmen menengah atas. Namun, beberapa tahun ke belakang investor asing
juga mulai melirik segmen menengah bawah.

“Umumnya, para investor asing kini mengincar kawasan di sekitar Jabodetabek. Contohnya, seperti daerah Sentul, Bogor, Bekasi, Cikarang, Karawang, BSD dan daerah pinggir lainnya,” jelas Lucy Rumantir.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda