Segmen Pasar Perkantoran Akan Kembali Bergairah di 2019

Untuk mempertahankan tingkat hunian, pemilik gedung perkantoran CBD harus kasih harga sewa yang menarik.

Dari data survey Savills Indonesia sampai kuartal I, tingkat kekosongan di wilayah CBD berada dikisaran 17% dengan tingkat hunian 83%.

RumahHokie.com (Jakarta) – Penyerapan ruang perkantoran masih belum terlihat secara maksimal. Meski pasokan cukup banyak, sepanjang kuartal I 2017 ini baru terserap 20.000 meterpersegi (m2).

Menurut analisa Savills Indonesia, pertumbuhan ruang perkantoran sangat terbatas. Tahun 2015, penyerapan ruang perkantoran tercatat 250.000m2, sedang di tahun 2016 mencapai 500.000m2).

“Kuartal I tahun ini pasokannya baru 70.000m2. Kondisi ini sangat berbanding terbalik pada penyerapan yang ada,” terang Anton Sitorus, Director of Research and Consultancy Savills Indonesia, Kamis, 20/4/2017.

Baca juga: Tren Perekonomian Membaik, Sektor Properti Kembali Menggeliat

Menurut Anton, bhttp://www.rumahhokie.com/beritaproperti/wp-admin/post.php?post=5735&action=edituat pemilik gedung, saat ini merupakan masa yang sulit untuk memenuhi tingkat huniannya. Gedung-gedung baru yang masuk ke pasar kesulitan mencari penyewa. Sehingga berdampak pada pertumbuhan sewa.

Dari data survey Savills Indonesia sampai kuartal I, tingkat kekosongan di wilayah CBD berada dikisaran 17% dengan tingkat hunian 83%.

“Tiga tahun lalu, tingkat kekosongannya hanya 5%. Artinya, penyerapan saat ini mengalami penurunan. Indikasi ini didasari oleh pasokan perkantoran yang cukup banyak, sementara permintaannya kurang maksimal,” papar Anton.

Dari kondisi pasar saat ini, sektor perkantoran tidak secerah tiga tahun sebelumnya. Artinya, untuk membangun perkantoran di wilayah CBD saat ini, kata Anton belum tepat.

Segmentasi pasar perkantoran yang masih bergairah yaitu grade A, lain dengan perkantoran grade B dan C. Jika dilihat dari tingkat kekosongannya, grade A (24%), premium grade (17%), grade B (10%), grade C (14%).

Harga Sewa Stagnan, Sektor Ini Masih Jadi Daya Tarik Pengembang
Indikasi ini lagi-lagi terimbas dari kondisi ekonomi Indonesia. Harga sewa sampai dengan akhir kuartal I (Maret 2017) tidak mengalami perubahan. Rata-rata stagnan dan masih belum ada kenaikan harga.

Banyaknya ruang kosong yang ada, diperkirakan para pemilik gedung berusaha untuk mencari penyewa dengan meluncurkan harga diskon yang menarik.

Jika dilihat dari kuartal ke kuartal penurunan harga sewa perkantoran hanya 2%. Meski kondisi demikian, para pengembang justru masih tertarik untuk meluncurkan gedung perkantoran di CBD.

Menurut datanya, hingga akhir tahun ini bakal ada pasokan sebanyak 780.000m2, begitu pula pada tahun 2018 mendatang. Artinya, sektor perkantoran masih menjadi daya tarik bagi pengembang.

“Hingga 2020, pasokan yang akan masuk ke pasar mencapai 2.000.000m2. Tentunya, ini harus diantisipasi oleh pemilik gedung untuk mempertahankan tingkat hunian mereka. Untuk bisa bertahan, harga sewa harus menarik,” ujar Anton.

Lewat analisanya, hingga 2019 harga sewa perkantoran diproyeksikan masih belum bisa naik, bahkan menurun. Terutama di segmen grade A, C dan grade premium.

“Segmen pasar ini akan kembali bergairah pada 2019. Namun, untuk membangun perkantoran di kawasan CBD saat ini adalah momen yang kurang tepat,” ucap Anton.

Dedy Mulyadi
dedy.mulyadi@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda