Sektor e-Commerce Dongkrak Permintaan Perkantoran di Jakarta

Pasokan ruang perkantoran baru di Jakarta, terutama di CBD, ditandai dengan berdirinya gedung-gedung berukuran besar, yakni di atas 50.000 m2.

perkantoran-cbd-jakarta-rumah hokie- dedy mulyadi-dok
Gedung perkantoran di CBD Jakarta (Dok. RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Pada kurun 2018 – 2021, jumlah ruang perkantoran yang masuk ke CBD Jakarta diperkirakan mencapai 1,8 juta m2, sedangkan di luar CBD, jumlahnya berkisar 890.000 m2.
Demikian laporan Jakarta Property Market Kuartal I-2018 yang dirilis konsultan properti, Colliers International Indonesia.

Menurut Colliers, pasokan ruang perkantoran CBD di 2018 menjadi yang terbesar. Di sisi lain, kendati permintaan diperkirakan mulai bergerak naik, besarnya pasokan tambahan akan menyebabkan tingkat hunian diprediksi turun menjadi 79,1% di akhir 2018.

Baca Juga: Apa Perbedaan Strategi Developer China dan Jepang di Indonesia?

Pasokan ruang perkantoran baru di Jakarta, terutama di CBD, ditandai dengan berdirinya gedung-gedung berukuran besar, yakni di atas 50.000 m2. Sebut saja Treasury Tower (140.000 m2), Menara Astra (80.000 m2), Sequis Tower (78.000 m2), World Trade Center III (70.000 m2), dan World Capital Tower (72.000 m2).

“Beroperasinya gedung-gedung perkantoran premium, menyebabkan rata-rata harga penawaran sewa naik, namun kondisi tenant market yang tengah terjadi, membuat harga transaksi bisa lebih rendah dari harga penawaran,” jelas Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Rabu (4/4/2018).

Besaran harga sewa, imbuhnya, juga ditentukan oleh tingkat okupansi gedung, masa sewa (tenor) tenant yang bersangkutan, dan brand dari tenant yang telah menyewa di gedung tersebut.

Secara umum, harga sewa rata-rata di CBD naik 10% mencapai Rp322.866 per meter persegi per bulan. Harga sewa gedung kelas premium di kuartal I-2018 menyentuh Rp459.110 per meter persegi per bulan, sementara gedung Grade A mencapai Rp311.055, Grade B Rp226.399, dan Grade C Rp175.445.

e-Commerce sebagai Penggerak
Menurut Ferry, penyewa ruang perkantoran yang bergerak di bidang e-commerce masih menjadi demand generator. Bahkan, Colliers mencatat, terjadi beberapa transaksi besar dengan luas ruang lebih dari 5.000 m2 di beberapa gedung perkantoran di Jakarta.

“Tak hanya memerlukan space untuk back office yang besar, perusahaan e-commerce juga memerlukan fasilitas logistik yang memadai, dalam hal ini pergudangan,” jelas Ferry.

Baca Juga: E-Commerce Berikan Angin Positif Terhadap Pergudangan Modern

Di sisi lain, imbuhnya, co-working space yang menjadi tren belakangan ini juga masih menunjukkan pertumbuhan tingkat permintaan.

Kawasan Luar CBD dan Moda Transportasi
Di luar CBD, Jakarta selatan masih menjadi area pilihan bagi tenant melakukan ekspansi bisnis. Setelah sempat mengalami penurunan, performa tingkat hunian dan rata-rata sewa di TB Simatupang kembali menunjukkan pertumbuhan dalam dua tahun terakhir.

Di kuartal I-2018, dua gedung perkantoran mulai beroperasi, yakni The Premium Office Suites (Sunter) dan Hermina Tower (Kemayoran) yang menambah pasokan sebesar 40.000 m2.
Penambahan ruang perkantoran dari keduanya menjadikan total pasokan perkantoran di luar CBD menjadi 3,1 juta m2 atau tumbuh 3,2% secara tahunan.

Baca Juga: TOD: Mewujudkan Transportasi Publik dan Kualitas Hidup Masyarakat

“Di sisi lain, MRT dan LRT belum menjadi driving factor bagi tenant untuk melakukan perpindahan gedung. Hal ini disebabkan pembangunan MRT dan LRT belum rampung. Namun, kemudahan akses dan transportasi umum tetap menjadi pertimbangan penyewa untuk menentukan lokasi ekspansi mereka,” pungkas Ferry.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda