Selain Menguasai Produk, Broker Harus Jago Menganalisa Pasar

Pertahun pertumbuhan kantor broker di Serpong mencapai 15%. Indikasi ini bisa dikatakan sebagai tren pemasaran properti lebih dipegang oleh broker.

Broker harus dapat mengkomunikasikan produknya dengan baik kepada konsumen.

RumahHokie.com (Serpong) – Lesunya pasar properti tak menyurutkan gairah para broker meningkatkan produktivitasnya. Sepak terjang yang hebat, kini broker properti tak lagi dipandang sebelah mata.

“Ketimbang in house marketing, broker jauh lebih unggul. Mereka kerap mengikuti tren dan fenomena pasar,” ungkap Nurul Yaqin, President Director Ben Hokk.

Jika in house marketing hanya menguasai satu produk knowledge milik pengembang, para broker justru lebih menguasai banyak produk.

Keunggulan Broker Properti
“Knowledge dan kompetensi in house marketing suatu developer bakal kalah dengan broker properti. Produktivitas broker properti pun semakin didukung dengan adanya regulasi untuk meningkatkan kualitas pemasar properti,” terang Nurul.

Tak heran jika kini para broker memiliki lebih banyak kerjasama dengan para developer.

Baca juga : Nurul Yaqin: Lesunya Pasar Properti Jadi Kebangkitan Bisnis Broker

Menurut Nurul, banyak broker properti sukses memasarkan proyek developer. Satu broker bisa memegang 10-15 proyek. Selain memiliki jaringan bisnis, mereka (broker properti) dituntut memiliki wawasan yang luas soal bisnis properti.

Peran Broker
“Salah satu kunci kesuksesan dalam memasarkan properti bukan hanya pada produknya tapi kualitas marketingnya. Broker diwajibkan untuk bisa menganalisa kondisi pasar, termasuk menguasai produk knowledge,” urai Nurul.

“Prilaku konsumen Indonesia biasanya lebih sering melakukan analisa produk sebelum memutuskan untuk membeli properti. Jadi fungsi broker dapat pula dijadikan sebagai patner konsultasi konsumen,” imbuhnya.

Kondisi ini bisa jadi tren pemasaran properti lebih dipegang oleh broker properti ketimbang ditangan in house marketing.

“Sebenarnya, fungsi front liner dipemasaran properti adalah broker properti, mereka bisa difungsikan sebagai pembuka jalur. In house marketing cukup di second line, menjadi tele marketing, verifikasi data, mempertajam pemahaman produk. Fungsi front liner ini adalah langkah strategi yang dipersiapkan broker properti,” papar Nurul.

Komunikasi Rangkaian Strategi Pemasaran
Perlu diketahui bahwa, dalam memasarkan produk properti ada strategi informasi dan komunikasi. Kalau informasi cukup dengan pemasangan spanduk atau banner pada area tertentu sedangkan komunikasi adalah pihak broker selaku personal yang fungsinya sebagai media komunikasi.

Gathering broker mungkin bisa menjadi salah satu alat komunikasi paling jitu dalam memasarkan properti ketimbang pasang iklan di baliho. Broker akan dengan mudah mengkomunikasikan produkya ke semua media, termasuk  media sosial,” terang Nurul.

Menurutnya, satu orang Broker saja dapat mengkomunikasikan produknya dengan jangkauan yang luas. Artinya, komunikasi ini merupakan bagian rangkaian strategi pemasaran.

Tak heran jika persentase pertumbuhan kantor broker pertahunnya di Serpong mencapai 15%. Tercatat, tahun kemarin jumlah anggota aktif sudah 750 kantor dan kini sudah 996 kantor. Satu tahun kurang lebih menjamur 200 kantor. Belum lagi yang belum masuk Arebi.

Indikasi menjamurnya kantor broker berawal dari 4-5 tahun lalu, saat bisnis properti terasa masih gurih dinikmati para investor yang menanamkan modalnya di investasi properti.

“Karena mereka punya aset banyak, mulailah pemikirannya untuk membangun kantor agen, sambil memasarkan aset miliknya sendiri termasuk aset keluarganya,” ujarnya.

Dedy Mulyadi

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda