Sengketa Dagang AS-China Hambat Bisnis Hotel di Asia Pasifik

Colliers International mengatakan keseluruhan okupansi kamar hotel dan tarif harian rata-rata di Asia Pasifik menunjukkan penurunan ke 68,1% atau sekitar USD99.

Colliers International Asia, hotel di Asia Pasifik, industri perhotelan di Asia Pasifik, kawasan Asia Pasifik
Ilustrasi hotel di Asia Pasifik. (Foto: pexels)

RumahHokie.com (Hong Kong) – Sengketa perdagangan antara AS-China terus membebani kepercayaan bisnis dan konsumen, sehingga menghambat pertumbuhan permintaan hotel perhotelan.

“Aktivitas di beberapa daerah mungkin tetap diredam karena investor mencerna perkembangan terkini, termasuk ketegangan perdagangan AS-China dan melambatnya pertumbuhan global,” papar Govinda Singh, Direktur Eksekutif Valuation & Advisory Services Colliers International Asia.

Dia berkomentar, apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya, industri perhotelan di seluruh Asia Pasifik terus mengalami tahun yang sulit pada kuartal II-2019.

Baca Juga: Investor Masih Aktif Mengambil Berbagai Peluang di Pasar Properti Asia

“Keseluruhan okupansi kamar hotel dan tarif harian rata-rata menunjukkan penurunan ke 68,1% atau sekitar USD99,” jelasnya seperti dilansir dari siaran pers, Senin (26/08/2019).

Konsultan real estat global tersebut mengatakan, padahal secara global, Asia Pasifik merupakan wilayah terbesar kedua dan yang paling cepat berkembang untuk industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).

Data Colliers mencatat, pertemuan dan perjalanan berbasis acara menghasilkan USD229 miliar atau 28,4% dari pendapatan global pada tahun 2017 lalu.

Baca Juga: Okupansi Hotel di Bali Terpengaruh Kenaikan Harga Tiket Pesawat

“MICE adalah sumber pendapatan penting untuk sektor perhotelan dengan sekitar 90% dari semua acara bisnis di kawasan ini. Pengunjungnya menghabiskan 1,7 kali lebih banyak daripada turis liburan,” kata Govinda

Lebih lanjut, China mendominasi industri MICE di Asia Pasifik dan diperkirakan akan mempertahankan posisi teratas hingga tahun 2025.

Menurutnya, pada tahun 2019 ini, pasar transaksi tetap tenang, karena pemilik mengkonsolidasikan portofolio mereka dan mencari investasi oportunistik.

Govinda Singh menerangkan, dalam beberapa tahun terakhir, Phuket telah menjadi lebih mapan sebagai tujuan MICE. Pada 2017, kota ini menyelenggarakan sekitar 660 pertemuan dan menerima hampir 60.000 peserta.

Baca Juga: Infrastruktur Beri Dorongan Positif Terhadap Pasar Properti Asia

“Phuket adalah kota yang paling banyak dikunjungi di Thailand setelah Bangkok. Pada 2017, total 28 juta pengunjung tiba di Phuket, pertumbuhan 4,5% dari tahun sebelumnya,” katanya.

Sedangkan di Malaysia, Indonesia, dan Kamboja berfokus pada acara yang mempromosikan kegiatan perdagangan.

“Sementara destinasi yang lebih mapan seperti Singapura, dan Hong Kong sedang memperbarui diri melalui penyediaan pengalaman unik dengan teknologi, masakan, dan konten,” tandas Govinda.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

 

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda