Ini Solusi Agar Properti di Koridor Timur Jakarta Makin Menarik

Dengan keunggulan infrastruktur dan modal basis ekonomi yang kuat, Koridor Timur Jakarta berpotensi mengalahkan Barat Jakarta yang lebih dahulu berkembang.

koridor timur jakarta TOD elevated-toll-road-LRT-Bekasi-anto-erawan-rumahhokie-dok
Elevated Toll Road Jakarta - Cikampek and LRT Rail in Bekasi (Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Pembangunan infrastruktur yang membanjiri Koridor Timur Jakarta belakangan ini, mendongkrak potensi investasi properti di kawasan tersebut. Peluang ini disambut para developer dengan membentuk Komite Pengembang Timur Jakarta, Oktober 2019 silam.

Pengamat Properti, Ali Tranghanda menggarisbawahi keunggulan Koridor Timur Jakarta, baik dari segi infrastruktur, basis ekonomi industri yang kuat, serta harga tanah yang relatif lebih murah dari Koridor Barat Jakarta.

Baca Juga: Enam Pengembang Sepakati Pembentukan Komite Koridor Timur Jakarta 

CEO Indonesia Property Watch (IPW) ini mengungkapkan, setidaknya ada sepuluh infrastruktur baru yang sedang dan akan dikembangkan di Timur Jakarta, di antaranya Jakarta – Cikampek Elevated Toll, Double-Double Track Manggarai-Cikarang, LRT, Tol Jakarta-Cikampek II Selatan, JORR II Cimanggis-Cibitung, Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Pelabuhan Patimban, Bandara Karawang, Kawasan Ekonomi Khusus Bekasi-Karawang-Purwakarta (Bekapur), dan Rencana MRT Tahap III Balaraja-Cikarang.

“Koridor Timur Jakarta (Kabupaten Bekasi) juga memiliki basis ekonomi industri yang kuat dan terbesar di Asia Tenggara—yang tidak dimiliki kawasan Barat Jakarta—yang didukung keberadaan kawasan industri seperti MM 2100, Delta Silicom, EJIP, BIIE, Jababeka, dan Delta Mas. Selain itu, Cikarang tercatat menyumbangkan 34,45% Penanaman Modal Asing Nasional serta 45% volume ekspor nasional,” papar Ali Tranghanda saat mengisi acara Jakarta Eastern Corridor Market Highlight 2020, Senin (13/1/2020).

Baca Juga: Sutedja Sidarta Darmono: Ke Depan, Timur Jakarta Akan Sangat Hebat

Dengan keunggulan infrastruktur dan modal basis ekonomi yang kuat, Ali meyakini kawasan Timur Jakarta berpotensi mengalahkan kawasan Barat Jakarta yang hampir semua fasilitas perekonomiannya dikembangkan belakangan oleh pengembang.

Selain itu, imbuhnya, harga lahan di Koridor Timur Jakarta juga lebih terjangkau, yaitu berkisar antara Rp5 juta – Rp12 juta per meter persegi, lebih murah dibanding lahan di Koridor Barat Jakarta yang sudah menyentuh Rp9 juta – Rp17 juta per meter persegi. Menurut Ali, harga tanah di Koridor Barat lebih mahal karena telah berkembang lebih dahulu dibandingkan Koridor Timur.

Solusi Permasalahan
Di samping kelebihan, Koridor Timur Jakarta memiliki kekurangan—dan hal ini yang justru lebih banyak beredar di masyarakat. Pertama, polusi udara dari industri ringan dan menengah. Menurut Ali, sebenarnya polusi udara di Timur Jakarta justru lebih ringan dibanding di kawasan industri berat di Tangerang.

“Selain itu, citra Timur Jakarta yang panas dan gersang serta lokasi pembuangan sampah juga menjadi penghalang konsumen untuk membeli properti di kawasan ini,” ujarnya.

Baca Juga: Hajime Indonesia Rilis Rumah Anti-Nyamuk Seharga Rp400 Jutaan

Ali menerangkan, image negatif ini bisa dikurangi dengan pembangunan hunian yang memiliki ruang terbuka hijau yang memadai. Selain itu, transformasi kota juga dapat mendukung mengatasi permasalahan lesunya pasar properti di Koridor Timur Jakarta.

“Pembangunan fasilitas yang lengkap seperti sekolah dan pusat perbelanjaan dapat meningkatkan daya tarik di Koridor Timur,” jelas Ali.

Hunian Terjangkau Atasi Mismatch
Lebih lanjut, dia menjelaskan saat ini pasar properti di Koridor Timur Jakarta mengalami kondisi mismatch. Hal ini disebabkan banyak pengembang lebih tertarik menjual hunian untuk segmen kelas atas, sementara pasar menengah bawah yang potensial.

Data IPW menunjukkan, di Kabupaten Bekasi, penghasilan masyarakat di bawah Rp2,5 juta sebesar 16,9%, Rp2,5 juta – Rp4,5 juta (31,7%), Rp4,5 juta – Rp7 juta (8,4%), Rp7 juta – Rp12 juta (26,3%), dan di atas Rp12 juta (16,7%).

Baca Juga: Pengamat: Pasar Properti Lesu Karena “Kesombongan” Pengembang

Dari data ini terlihat, komposisi penghasilan di atas Rp4,5 juta per bulan sebesar 51,39% atau sebanyak 159,903 kepala keluarga. Mereka ini bisa menyerap hunian sekitar Rp300 jutaan hingga Rp700 jutaan.

“Keadaan mismatch ini dapat teratasi dengan adanya pembangunan hunian terjangkau yang bisa terserap end-user,” pungkas Ali.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda