Strategi Investasi Properti (Bagian 3): Pembiayaan yang Cerdas

Pembiayaan properti bisa dilakukan dengan cara tunai (cash) atau kredit. Akan tetapi, kapan sebaiknya harus memilih tunai atau kredit? Perhatikan triknya!

RumahHokie.com (Jakarta) – Setelah mengupas waktu yang tepat dan lokasi yang prospektif, di artikel ini akan dibahas strategi investasi terakhir, yakni pembiayaan yang smart.

Pembiayaan properti bisa dilakukan dengan cara tunai (cash) atau kredit. Akan tetapi, kapan sebaiknya harus memilih pembayaran tunai atau bertahap? Perhatikan triknya.

Jika selisih suku bunga KPR (kredit pemilikan rumah) dengan deposito lebih dari 5% (misalnya bunga deposito 10% dan suku bunga KPR 16%), sebaiknya Anda membeli properti dengan tunai keras (hard cash).

Jika selisih suku bunga deposito dengan KPR antara 3% – 5 % (misalnya bunga deposito 9% dan suku bunga KPR 13%), belilah properti dengan soft cash.

Pembayaran soft cash bisa dengan cara mencicil bertahap (installment) atau bisa membayar uang muka besar dengan kredit KPR kecil.

Di saat seperti sekarang, dimana sektor properti menurun, pengembang banyak yang menawarkan kemudahan, seperti DP yang bisa dicicil atau tunai bertahap hingga lima tahun.

Sementara itu, jika selisih bunga deposito dengan KPR kecil, yakni kurang dari 3% (misalnya bunga deposito 9% sementara suku bunga KPR 11%), belilah properti secara kredit dengan masa cicilan (tenor) maksimal.

Jangka Waktu Cicilan
Kredit terbagi dua, yakni jangka pendek (short term) dan jangka panjang (long term). Jika selisih suku bunga dengan deposito tinggi (lebih dari 5%), lebih baik mencicil properti dengan short term atau di bawah 5 tahun.

Tetapi jika selisih suku bunga deposito dengan KPR antara 3% – 5 %, belilah dengan mencicil dalam jangka waktu menengah (mid term), yakni antara 5 – 10 tahun.

Sementara itu, jika selisih bunga deposito dengan suku bunga KPR kecil (kurang dari 3%), belilah properti secara kredit dengan tenor di atas 10 tahun.

Saat tren suku bunga meningkat, gunakan KPR suku bunga tetap (fixed rate) yang menawarkan suku bunga tetap hingga beberapa tahun ke depan.

Sebaliknya, jika tren suku bunga menurun, sebaiknya pergunakan suku bunga mengambang atau floating rate, sehingga Anda bisa menikmati suku bunga rendah setelah kondisi ekonomi membaik.

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda