Strategi Pemasaran Pengembang Properti di Tahun Politik

Di tahun politik, permintaan produk properti mulai terlihat melambat. Untuk itu, ada beberapa hal yang yang harus dilakukan pengembang agar penjualan tidak terpuruk.

Hartan Gunadi - Hartan land - agung sedayu - by anto erawan - rumahhokie - dok
Hartan Gunadi, CEO Hartan Land (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Prospek properti di tahun 2019, dinilai beberapa kalangan belum akan cerah. Pasalnya, siklus properti Tanah Air masih berada di bawah, sementara ajang kontestasi politik, baik Pemilu dan Pilpres membikin pengembang mengambil langkah konservatif.

Hartan Gunadi, CEO PT Hartan Land Properti Indonesia (Hartan Land) optimistis ajang pemilihan presiden (Pilpres) 17 April mendatang akan berjalan baik, siapa pun yang terpilih menjadi presiden.

“Dengan demikian, iklim berbisnis—termasuk bisnis properti—juga akan tetap baik,” jelas Hartan kepada awak media di Jakarta, Rabu (23/1/2019).

Baca Juga: Lima Strategi Marketing Produk Properti “Zaman Now”

Kendati demikian, Hartan tak menutup mata bahwa jelang perhelatan Pilpres permintaan produk properti mulai terlihat melambat. Untuk itu, imbuh Hartan, ada beberapa hal yang yang harus dilakukan oleh pengembang agar penjualan properti tidak terpuruk.

“Hal yang harus dilakukan adalah menyesuaikan produk properti dengan target pasar, kemudian strategi harga atau pricing. Saat ini harga properti dengan kisaran Rp1 miliar hingga Rp2 miliar masih berat. Sementara, harga unit Rp500 juta hingga Rp600 masih oke, apalagi harga di bawah itu,” urai Hartan.

Menurutnya, pembeli rumah di atas Rp1 miliar lebih banyak investor yang berpikir indikator ekonomi dan politik seperti Pilpres dan lain-lain. Sedangkan, pasar rumah Rp500 juta – Rp600 juta masih kuat karena diminati end user dengan pangsa pasar sekitar 80%.

Baca Juga: Strategi Kolaborasi Marketing dan Pengembang Properti

Dia memerkirakan, secara persentase akan terjadi penurunan penjualan berkisar 20% – 30%. Namun, target penjualan 70% – 80% di kondisi seperti saat ini sudah tergolong bagus.

“Sekarang ini investor melakukan aksi wait and see, sedangkan end user masih membeli properti karena memang kebutuhan,” katanya.

Untuk menarik minat end user, imbuh Harta, pengembang harus memberikan aneka gimmick dan strategi marketing yang menarik.

“Jadi, untuk konsumen end user, sebaiknya membeli properti secepatnya,” ujar Hartan.

Baca Juga: Potensi Besar, Pengembang Harus Bidik Pasar Menengah-Bawah

Untuk lokasi perumahan, Hartan menyebut Bogor dan Bekasi sebagai daerah yang masih diminati konsumen, terutama konsumen rumah tapak. Sedangkan untuk harga hunian dengan kisaran tersebut, konsumen di Jakarta lebih memilih apartemen lantaran harga rumah sudah terlalu tinggi.

“Saya yakin properti adalah investasi paling baik, terutama di saat kondisi ekonomi yang baik. Permintaan properti pun akan terus bertambah karena lahan tidak bertambah,” pungkasnya.

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda