Suku Bunga 8% – 12%, Makin Banyak Konsumen Gunakan KPR

Faktor utama penghambat pertumbuhan bisnis properti adalah suku bunga KPR, uang muka rumah, perizinan, pajak, serta kenaikan harga bahan bangunan.

RumahHokie.com (Jakarta) – Indeks harga properti residensial pada kuartal I-2017 diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 0,32% (qtq), atau melambat dibandingkan 0,37% (qtq) pada kuartal IV- 2016.

Kenaikan harga rumah terjadi pada semua tipe rumah dengan kenaikan harga tertinggi pada rumah tipe kecil (0,59%, qtq), sementara kenaikan harga terendah terjadi pada rumah tipe besar (0,10%, qtq). Demikian hasil  Survei Harga Properti Residensial yang dirilis Bank Indonesia.

Hampir semua kota di Indonesia mengalami kenaikan harga rumah, kecuali Semarang yang turun -0,05% (qtq) sebagai strategi meningkatkan penjualan rumah.

Secara tahunan, kenaikan harga rumah juga diperkirakan melambat. Pada kuartal I-2017, harga diperkirakan meningkat 1,70% (yoy), atau melambat dibandingkan 2,38% (yoy) di kuartal sebelumnya.

Berdasarkan tipe bangunan, kenaikan harga rumah tertinggi diperkirakan kembali terjadi pada rumah tipe kecil (2,58%, yoy). Sementara berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah tertinggi diperkirakan terjadi di Manado (8,76%, yoy).

Survei BI ini mencatat, faktor utama penghambat pertumbuhan bisnis properti adalah suku bunga KPR (19,91%), uang muka rumah (18,39%), perizinan (16,15%), pajak (13,76%), serta kenaikan harga bahan bangunan (13,54%).

Porsi Pembiayaan KPR Naik
Fasilitas KPR (Kredit Pemilikan Rumah) tetap menjadi pilihan utama dalam melakukan transaksi pembelian properti.

Hasil survei BI mengindikasikan, sebagian besar konsumen (77,22%) masih memilih KPR sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian properti residensial, meningkat dibandingkan kuartal lalu (74,77%).

Sementara itu, proporsi konsumen yang memilih skema pembayaran tunai bertahap sebesar 15,91%, turun dibanding kuartal sebelumnya (17,62%).

Hal ini diindikasikan sebagai dampak dari kebijakan pelonggaran LTV (Loan to Value) yang efektif diberlakukan sejak akhir Agustus 2016. Sebagai informasi, tingkat bunga KPR yang diberikan oleh perbankan berkisar antara 8% -12%.

Berdasarkan lokasi proyek, suku bunga KPR tertinggi diterapkan di Maluku Utara (13,98%) sedangkan suku bunga KPR terendah berada di Nanggroe Aceh Darussalam (10,79%).

Penyaluran KPR Tumbuh
Pertumbuhan penyaluran KPR dan KPA pada kuartal IV-2016 (data hingga November 2016) mengalami peningkatan dibandingkan kuartal III- 2016, sejalan dengan kenaikan penjualan properti residensial.

Total KPR dan KPA pada kuartal IV-2016 tercatat sebesar Rp362,84 triliun atau tumbuh 1,90% (qtq), meningkat dibandingkan 0,49% (qtq) di kuartal sebelumnya.

Sejalan dengan pertumbuhan KPR dan KPA, pertumbuhan total kredit perbankan juga mengalami kenaikan sebesar 1,66% (qtq), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sebesar 1,04% (qtq) pada kuartal sebelumnya.

Sebagai informasi, pencairan FLPP (fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan) sampai dengan kuartal IV-2016 tercatat sebesar Rp5,63 triliun dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) FLPP tahun 2016 sebesar Rp9,23 triliun.

Anto Erawan

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda