Tamagochi Home dan Value Sebuah Properti

Tempat tinggal Anda juga harus dirawat agar tidak zonk. Value dari properti itu terbentuk dari lokasi atas lahan dan nilai tambah di atasnya.

membeli rumah
Foto: Dok. RumahHokie.com

RumahHokie.com“House is built by hand, but home is built by heart”. Tujuan Anda harus membangun rumah tangga, sebab kalau cuma membangun rumah saja, Anda ya cuma developer kayak Ciputra, Trihatma Haliman, atau Bakrie.

Tetapi membangun rumah tangga itu “rumah yang ada tangganya”. Meniti ke atas, merajut kasih, merawat anak, isteri/suami, bertetangga, dan bersyukur kepada Tuhan. Ini proses naik. Meningkatkan kualitas. Tumben saya jadi serius.

Seperti Tamagochi, mainan mungil yang punya perasaan itu. Anda tentu ingat mainan sebesar jempol yang bisa sakit, sedih, lapar, marah, dan meninggal.

Anda harus memberi perhatian kepadanya agar tidak marah atau meninggal. Itu kayak Pokemon Go di zaman sekarang.

Tempat tinggal Anda juga harus dirawat agar tidak zonk. Value dari properti itu terbentuk dari lokasi atas lahan dan nilai tambah di atasnya.

Seorang developer dapat melipat harga tanah sampai tujuh kali dari tanah mentah. Itu terjadi karena tanah diberi manfaat berupa konsep pengembangan, desain, smart building, gengsi, dan diberi nama yang menggetarkan: The California, Estonia, Insomnia, dan lainnya.

Tapi Anda tidak bisa sembarangan memberi nama, misalnya “Titan Arum”. Nama itu indah tapi merupakan nama lain dari Raflesia Arnoldi alias bunga bangkai.

Nah, makanya pada properti-properti baru yang dulu berasal dari tanah kosong menjadi bangunan, nilainya bertambah, sehingga dikenai “Pajak Pertambahan Nilai” (PPN) sebesar 10%, PPN barang mewah 20%, dan super mewah 25%. Artinya, kalau Anda membeli rumah Rp10 miliar, pajaknya Rp2,5 miliar.

Sumbangsih tanah terhadap nilai total memang dominan. Nilai bangunan tidak signifikan memberi harga. Tetapi pada lingkungan kosong melompong, sangat berbeda harga tanahnya dengan lingkungan yang sudah matang dan aneka fasilitas tersedia.

Lucu ya. Tanah dianggap lebih penting daripada bangunannya, padahal yang kita perlukan justru bangunannya. Belum ada yang beli tanah untuk bikin gorong-gorong dan tinggal di dalamnya ya?

Itulah arti “scarcity”. Langka. Setiap titik tanah itu unik dan tak ada duanya. Setiap areal/lingkungan juga unik karena faktor infrastruktur/suprastruktur, askes, dan image publik.

Nah, sekarang Anda tahu, kalau saya sedang serius, Anda ngantuk dan males baca. Garing. Itulah, makanya saya memang tidak bakat serius kok!

Bersama F. Rach Suherman F. Rach Suherman
Mentor investasi properti nasional ini sebelumnya menjabat CEO di tiga perusahaan properti yang berbasis di Indonesia. Saat ini Suherman juga menjadi dosen dan aktif memberi seminar, pelatihan, dan konsultansi untuk perencanaan dan pemasaran properti.

Bila Anda memiliki pertanyaan, kirimkan ke: redaksi@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda