Techno Talk: Mengupas Kecelakaan Kerja Konstruksi di Indonesia

Sebuah forum diskusi Techno Talk, mengupas faktor kecelakaan kerja dalam bidang konstruksi yang akhir-akhir ini terjadi di Tanah Air.

Tecno Talk-RumahHokie.com-Adhitya Putra-2018
(Foto : Adhitya Putra - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Kecelakaan kerja pada bidang konstruksi meningkat seiring dengan pembangunan infrastruktur yang sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh Pemerintah Indonesia saat ini. Serangkaian musibah yang menelan korban jiwa itu terjadi di berbagai proyek di berbagai daerah.

Sebuah forum diskusi Techno Talk bertajuk ‘Safety and Health at Work to Support Smart Technology of Precast to realizing Acceleration of Sustainable Development’, mengupas kecelakaan kerja dalam bidang konstruksi yang akhir-akhir ini terjadi.

Menurut Wilfred Singkali, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pracetak dan Prategang Indonesia (AP3I) dalam pemaparannya, mengatakan sumber kecelakaan di dalam pengerjaan  proyek pembangunan infrastruktur terjadi karena banyak faktor.

Baca Juga : Implementasi HPC sebagai Parameter Utama untuk Infrastruktur

“(Kecelakaan) bisa karena tidak mengikuti peraturan, alat APD yang tidak layak, konstruksi yang hancur dan sebagainya. Sebanyak 48% kecelakaan terjadi karena tidak hati-hati,” ujar Wilfred di Hotel Dafam Teraskita, Jakarta, Kamis (02/04/2018).

Mengutip dari laman digital Kumparan, berdasarkan data dari Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Konstruksi Indonesia (A2K4I) mencatat selama 6 bulan terakhir, terdapat 10 kecelakaan konstruksi di proyek infrastruktur di berbagai daerah.

Ikut sebagai pembicara, Ir. Sidiq Purnomo, Direktur Teknik dan Sistem Manajemen PT WIKA Beton, berujar setiap proyek yang dijalankan haruslah memiliki bagian safety monitor khusus menjelaskan bahaya apa saja yang terjadi untuk diri sendiri, lingkungan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Kecelakaan dalam bidang infrastruktur sebenarnya bisa pula dicegah dengan penggunaan material bangunan yang berkualitas, seperti beton precast yang sesuai standarisasi.

Baca Juga : PUPR Alokasikan Rp694,98 Miliar Untuk Infrastruktur di Bengkulu

Rezeki Peranginangin, Kepala Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi Kementerian PUPR menerangkan pengembangan sistem beton precast tidak lepas pekerjaan pihaknya.

Menurutnya, jika melihat perkembangan infrastruktur saat ini kebutuhan akan beton precast akan naik terus.

“Hingga tahun 2019 saja, kita masih punya target pembangunan 1.000 km jalan tol di berbagai daerah di Indonesia. Jika melihat Program Sejuta Rumah, itu juga membutuhkan banyak precast,” ungkap Rezeki dalam acara yang sama.

Ia menambahkan, seharusnya jika beton precast diaplikasikan dengan baik, dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja.

Rezeki memberikan contoh misalnya pada kasus kecelakaan tiang girder dalam pembangunan proyek tol Becakayu yang belum lama ini terjadi. Ia melihat ada metode pemasangan yang tidak sesuai.

“Kami melihat di beberapa kesempatan, masih ada tenaga kerja belum tersertifikasi. Oleh karena itu kami (Kementerian PUPR) sedang menggenjot terus dalam meningkatkan tenaga kerja yang berkualitas,” pungkasnya.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda