Tersembunyi di Belantara Kota, Hunian Ini Hadirkan Nuansa Pedesaan

Butuh waktu 18 bulan untuk memasang komponen-komponen kayu di hunian bernuansa pedesaan ini. Selain itu, pengaturan fungsi ruang pun diperhatikan agar rumah terasa nyaman.

 

RumahHokie.com (Jakarta) – Rumah ini layaknya surga kecil nan asri, alami dan jauh dari kebisingan. Uniknya, rumah ini tersembunyi di belantara kota Jakarta.

Lewat rekomendasi seorang teman, redaksi rumahhokie.com berhasil menjadi media pertama yang diberi kesempatan menyambangi rumah bergaya tradisional Jawa ini.

Awal kekaguman tak hanya terlihat oleh bentuknya saja. Namun, atmosfer yang diciptakan jauh lebih mengesankan. Kecerdasan sang pemilik berhasil menghadirkan nuansa pedesaan nan kental di istananya.

“Saya pribadi sebenarnya ingin sekali tinggal di tengah desa. Karena kesibukan saya ada di Jakarta, akhirnya keinginan itu saya wujudkan di rumah ini,” ucap Hary Prianto sang pemilik rumah.

“Aroma pedesaan sengaja saya tuangkan untuk menghasilkan nuansa tradisional Jawa yang sesungguhnya. Karenanya, elemen berbau antik dan klasik ada rumah saya ini,” paparnya.

Hunian ini memiliki luas lahan sekitar 900 meter persegi. Oleh pemiliknya, seluas 500 meter persegi difungsikan sebagai hunian bergaya arsitektur tradisional Jawa dan diberi nama Ndalem Wetan.

Rumah yang Dirakit Kembali
Uniknya, fasade dan struktur bangunan tersebut merupakan bentuk original yang dibelinya di Jawa Timur. “Rumah tradisional Jawa beratap limasan ini sebenarnya sudah berdiri di Mojokerto, saya beli kemudian saya bongkar dan disusun kembali, jadilah seperti ini,” ujar Hary.

Menurut Hary, untuk merangkainya butuh waktu 18 bulan. Rumah ini terbagi menjadi empat massa bangunan. Masing-masing memiliki fungsi berbeda. Pendopo ini difungsikan sebagai teras atau ruang tamu. Satu bangunan difungsikan sebagai private area (kamar tidur dan ruang keluarga), dua bangunan lain dibentuk sebagai ruang penunjang serta service area.

Untuk menyempurnakan gaya klasik pedesaannya, bapak tiga anak ini menghadirkan beragam ornamen pada interiornya, mulai furnitur berbahan kayu jati hingga lantai bertema klasik tradisional.

“Sebelum membangun rumah ini, saya sudah lebih dulu mengoleksi furnitur antik. Setelah rumah jadi, furnitur itu saya tempatkan sesuai fungsinya,” kupas Hary.

Biar menyatu dengan elemen eksisting, tanaman yang sudah ada tetap dipertahankan. Misalnya saja pohon kelapa. Awalnya rumah ini terdapat 10 pohon kelapa, kini hanya menyisakan empat pohon.

Lebih lanjut Hary menjelaskan, tantangannya menciptakan nuansa seperti ini adalah lahannya harus luas. Ruang harus fungsional dan nyaman. Hanya saja, kebutuhan ruang harus ada yang dikalahkan. Dari lahan seluas ini, Hary hanya menyediakan empat kamar tidur.

Untuk menghadirkan nuansa alami yang kental suasana desa, Hary memelihara ayam jago juga mengoleksi burung perkutut. Kicauan peliharaannya itu dijadikannya sebagai pengusir kepenatan.

Dedy Mulyadi

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda