Tingkat Okupansi Ruang Perkantoran CBD di Ibukota Capai 78%

Dalam laporan berjudul Jakarta Property Update (first quartal-2018), JLL Indonesia merilis perkembangan pasar bagi ruang perkantoran di Ibukota.

JLL Indonesia-Gedung Perkantoran di Jakarta-RumahHokie.com-Adhitya Putra-2018
Ilustrasi perkantoran. (Foto : Adhitya Putra RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Konsultan properti global, Jones Lang Lasalle (JLL) Indonesia, memprediksi pasar properti Ibukota secara umum akan kembali bergairah di awal tahun 2018 ini. Hal itu didasari pada perkembangan tren indikator di berbagai sektor yang mereka amati.

Dalam laporan berjudul Jakarta Property Update (first quartal-2018), JLL Indonesia merilis perkembangan pasar bagi ruang perkantoran di Ibukota.

Angela Wibawa, Head of Markets, JLL Indonesia menjelaskan sepanjang kuartal I-2018, pasokan ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta yang berhasil terserap adalah sebesar 52.000 meter persegi dengan tingkat okupansi di level 78%.

Baca Juga : Penjualan Kondominium Segmen Menengah Diprediksi Terus Bertumbuh

Mereka merilis terdapat 189.000 meter persegi pasokan ruang kantor baru di kuartal I-2018 ini yang datang dari berbagai proyek pembangunan gedung perkantoran di wilayan CBD Jakarta. Untuk harga sewa perkantoran di area tersebut, berada dikisaran Rp195.059 per meter persegi.

Sedangkan, untuk pasokan perkantoran di wilayah non CBD berada diangka 12.000 meter persegi dengan tingkat okupansi berada di angka 77% dan harga sewa mencapai Rp117.207 per meter persegi.

Angka tersebut masih mencerminkan konsistensi tingkat permintaan yang mengalami pertumbuhan sejak tahun lalu.

“Sejumlah sektor yang aktif seperti teknologi informasi, serviced office atau co working space, insurance, dan professional services membawa pengaruh positif untuk pasar perkantoran,” jelas Angela saat jumpa pers, Rabu (04/04/2018) di Jakarta.

Baca Juga : JLL: Bisnis Berbasis Teknologi Bawa Angin Segar untuk Ruang Perkantoran di Jakarta

Dalam kesempatan yang sama, Vivin Harsanto, Head of Advisory JLL Indonesia, mengatakan pertumbuhan ekonomi dan bisnis properti merupakan dua hal yang saling terkait.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi diatas 5%, pembangunan infrastruktur yang intensif, dan perbaikan peringkat kemudahan berbisnis memberikan harapan pada pasar properti untuk terus bergairah.

“Indikasi bahwa terdapat recovery bisa dilihat dari pasar perkantoran di 2017 yang memiliki daya serap yang cukup bagus,” katanya.

Vivin menambahkan kondisi positif tersebut dapat dimanfaatkan oleh pengembang bisnis properti yang harus semakin cermat dalam melihat peluang dan membaca permintaan pasar, namun juga tetap waspada menjelang memasuki tahun politik.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda