Turunnya Pasar Perumahan Dipengaruhi Tipe Kecil dan Menengah

Beberapa faktor yang menghambat pertumbuhan pasar perumahan adalah daya beli, suku bunga KPR, harga rumah, dan perizinan/birokrasi.

bali-resort-bogor-perumahan-menengah-mas-group-by-anto-erawan-rumahhokie-dok
Perumahan menengah di Bogor (Foto: Anto Erawan - RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Kenaikan harga properti residensial di kuartal II-2019 terindikasi melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) secara kuartalan pada kuartal II-2019 sebesar 0,20% (qtq), lebih rendah dibandingkan 0,49% (qtq) pada kuartal sebelumnya.

Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) di pasar perumahan primer yang dilakukan Bank Indonesia mengindikasikan terjadinya kenaikan harga properti residensial pada kuartal II-2019. Hal ini terutama disebabkan terjadinya kenaikan harga bahan bangunan dan kenaikan upah pekerja bangunan.

Baca Juga: Penurunan Suku Bunga Acuan BI Bakal Pengaruhi Penjualan Properti

Secara kuartalan, melambatnya kenaikan harga properti residensial terjadi pada semua tipe rumah. Pada kuartal II-2019, kenaikan harga rumah tipe kecil melambat dari 0,72% (qtq) pada kuartal sebelumnya menjadi 0,37% (qtq).

Pada rumah tipe menengah, kenaikan harga melambat dari 0,60% (qtq) menjadi 0,18% (qtq), sementara pada rumah tipe besar melambat dari 0,20% (qtq) menjadi 0,03% (qtq).

Berdasarkan wilayah, melambatnya kenaikan harga properti residensial terjadi pada sebagian besar kota dan penurunan harga terjadi di Kota Batam (-3,01%, qtq) dan Bandar lampung (-0,01%, qtq).

Kenaikan Harga Rumah Melambat
Secara tahunan, kenaikan harga properti residensial juga melambat dari 2,04% (yoy) pada kuartal sebelumnya menjadi 1,47% (yoy). Perlambatan kenaikan harga rumah properti residensial terjadi pada semua tipe rumah.

Kenaikan harga rumah tipe kecil melambat dari 3,18% (yoy) pada kuartal sebelumnya menjadi 2,18% (yoy) pada kuartal II-2019. Pada rumah tipe menengah, kenaikan harga melambat dari 1,82% (yoy) menjadi 1,32% (yoy), sedangkan pada rumah tipe besar melambat dari 1,16% (yoy) menjadi 0,92% (yoy).

Baca Juga: Properti Residensial: Harga Tersendat, Penjualan Terhambat

Sementara itu berdasarkan wilayah, kenaikan harga properti residensial tertinggi terjadi di Kota Medan (3,77%, yoy), diikuti Banjarmasin (3,11%, yoy).

Survei Bank Indonesia menyebut, pada kuartal II-2019, melambatnya kenaikan IHPR secara kuartalan sejalan dengan perlambatan kenaikan biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga untuk tempat tinggal. Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) sub kelompok biaya tempat tinggal sebesar 0,18% (qtq), lebih rendah dari 1,13% (qtq) pada kuartal sebelumnya.

Empat Kendala Utama
Di sisi lain, penjualan properti residensial pada kuartal II-2019 secara kuartalan turun -15,90% (qtq), atau lebih rendah dibandingkan 23,77% (qtq) pada kuartal sebelumnya maupun dengan -0,08% (qtq) pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Menurunnya penjualan pada kuartal II-2019 disebabkan oleh melemahnya penjualan rumah tipe kecil (-23,48%, qtq) dan rumah tipe menengah (-12,88%, qtq). Sebaliknya, penjualan rumah tipe besar naik dari 24,56% (qtq) menjadi 33,08% (qtq).

Baca Juga: Jabodetabek Bakal Diramaikan Rumah Rp900 Juta – Rp1,5 Miliar

Hasil survei Bank Indonesia memperlihatkan, beberapa faktor utama yang menghambat pertumbuhan penjualan properti residensial pada kuartal II-2019 adalah melemahnya daya beli, suku bunga KPR yang cukup tinggi, tingginya harga rumah, dan permasalahan perizinan/birokrasi dalam pengembangan lahan.

Berdasarkan data laporan bulanan bank umum, rata-rata suku bunga KPR pada kuartal II-2019 (Juni 2019) sebesar 9,43%, lebih rendah dibandingkan 9,53% pada kuartal I-2019 (Maret 2019). Secara regional, suku bunga KPR tertinggi terjadi di provinsi Kalimantan Selatan (14,75%) dan terendah di Yogyakarta (8,39%).

Sementara berdasarkan kelompok bank, suku bunga KPR tertinggi di Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar 11,86% dan terendah di Bank Asing dan Campuran sebesar 7,05%.

KPR Masih Jadi Pilihan Utama
Dana internal perusahaan masih menjadi sumber utama bagi pengembang dalam pembangunan properti residensial. Pada kuartal II-2019, rata-rata penggunaan dana internal pengembang untuk pembangunan properti residensial sebesar 60,57%, kemudian dari pinjaman perbankan sebesar 27,54% dan pembayaran dari konsumen sebesar 9,80%. Berdasarkan komposisi dana internal, porsi terbesar berasal dari laba ditahan (58,9%) dan modal disetor (37,0%).

Sementara itu dari sisi konsumen, fasilitas KPR tetap menjadi sumber pembiayaan utama bagi konsumen dalam melakukan pembelian properti residensial. Hasil survei mengindikasikan bahwa sebagian besar konsumen (74,32%) menggunakan fasilitas KPR untuk membeli properti residensial, kemudian 19,05% dengan tunai bertahap dan 6,64% tunai.

Baca Juga: Tahun Politik, Pasar Perumahan di Jabodetabek Didominasi End-User

Sejalan dengan penurunan penjualan di pasar perumahan primer, pertumbuhan penyaluran KPR dan KPA pada kuartal II-2019 melambat dari 4,02% (qtq) pada kuartal sebelumnya menjadi 0,70% (qtq), dan secara tahunan melambat dari 15,67% (yoy) menjadi 12,79% (yoy).

Selain itu, pencairan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada kuartal II-2019 sebesar Rp1,688 triliun, lebih rendah dari Rp2,664 triliun pada kuartal I-2019. Secara akumulasi, penyaluran FLPP pada semester I-2019 mencapai Rp4,352 triliun, atau 61,3% dari target FLPP 2019 sebesar Rp7,1 triliun.

Harga Menguat di Kuartal III–2019
Secara kuartalan, kenaikan harga properti residensial pada kuartal III-2019 diperkirakan kembali menguat. Hal ini terindikasi dari kenaikan IHPR kuartal III-2019 sebesar 0,76% (qtq), lebih tinggi dibandingkan 0,20% (qtq) pada kuartal sebelumnya.

Kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya kenaikan harga rumah yang terjadi pada seluruh tipe rumah, di mana rumah tipe kecil meningkat paling tinggi, dari 0,37% (qtq) menjadi 1,74% (qtq).

Baca Juga: Segmen Menengah Kuasai Pasar Perumahan di Jabodetabek

Sementara secara tahunan, kenaikan harga properti residensial pada kuartal III-2019 juga diperkirakan menguat dari 1,47% (yoy) pada kuartal III-2019 menjadi 1,82% (yoy). Perlambatan kenaikan harga secara tahunan terjadi pada seluruh tipe rumah, terutama rumah tipe kecil yang mengalami kenaikan harga dari 2,18% (yoy) pada kuartal sebelumnya menjadi 3,26% (yoy). Berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah tertinggi diperkirakan terjadi di Medan (4,13%, yoy).

Anto Erawan
anto.erawan@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda