Viro Kembangkan Material Arsitektur ke Industri Seni Instalasi

Kolaborasi Viro dalam seni instalasi ini merupakan bentuk dari uji kemampuan material eco faux untuk diterapkan pada ragam bidang industri.

Viro, material eco faux, instalasi seni CASA 2019, anyaman sintetis
(Foto: dok.Viro)

RumahHokie.com (Jakarta) – Viro, produsen material untuk desain arsitektural dan interior, berkolaborasi dengan seniman Joko Avianto dan desainer Kezia Karin pada ajang CASA Indonesia 2019.

Johan Yang, Executive Vice President PT Polymindo Permata selaku perusahaan pemilik merek Viro, mengatakan kolaborasi pihaknya dalam seni instalasi ini merupakan bentuk dari uji kemampuan material eco faux untuk diterapkan pada ragam bidang industri.

“Tahun ini, kami memiliki ambisi untuk terus menguji kreativitas dan inovasi bahan eco faux. Kami mencoba untuk masuk dalam industri seni instalasi yang memiliki kebutuhan karakter material yang tentunya berbeda dengan fesyen maupun arsitektur,” ujar dia seperti dilansir dari siaran pers, Ahad (05/05/2019).

Baca Juga: Viro Tampilkan Modular Forest Pod, Sebuah Rancang Bangun Inovatif

Lebih lanjut, Johan Yang menjelaskan eco faux memiliki masa pakai hingga 20 tahun dan dapat dapat didaur ulang tujuh kali pemakaian.

“Selain menunjukan fleksibilitas pemakaian eco faux, kedua karya instalasi seni ini merupakan bentuk dukungan kami terhadap isu-isu pelestarian lingkungan,” tutur Johan.

Viro memasok bahan eco faux yang menyerupai bambu bagi karya Clouds garapan Joko Avianto. Karya tersebut terdiri atas empat panel yang membingkai ketidakteraturan menjadi sebuah karya keindahan.

Baca Juga: Usung Konsep Archineering, Viro Bangun Gazebo Gedong Panjang

Sang seniman memilih untuk memadukan penggunaan bambu dengan material eco faux dalam instalasi seni-nya tersebut.

Ia mengatakan hal ini bertujuan untuk menunjukkan harmoni antara bahan yang bersifat terurai dalam waktu tertentu (bambu) dan material pilihan yang lebih berkelanjutan dan tahan lama.

Sedangkan, Kezia Karin kembali memperlihatkan talentanya dengan membawa konsep karya segar. Dia merancang sebuah instalasi yang terinspirasi dari kepeduliannya terhadap isu lingkungan, khususnya masalah sampah plastik sekali pakai.

Baca Juga: Gandeng Perusahaan Jerman, Viro Kembangkan Furnitur Anyam

Melalui konsep Makrame, Karin berupaya untuk merefleksikan keharmonisan akulturasi budaya pesisir dengan keindahan biota laut.

“Isu sampah plastik sekali pakai, seperti botol air mineral maupun makanan kemasan, sangat berdampak pada mahluk yang hidup di laut, dan juga masyarakat di pesisir pantai. Karya ini mencerminkan dua elemen tersebut,” kata Karin.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda