Yayat Supriatna: Pembangunan TOD Masih Berjalan Tidak Sinkron

Pengembangan hunian berkonsep transit oriented development akan memberikan sejumlah keuntungan bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya, seperti kelancaran mobilitas, kepastian waktu serta nilai properti yang terus melaju naik

Transit-oriented-development-TOD-RumahHokie.com
Transit Oriented Development (Foto: Dok. RumahHokie.com)

RumahHokie.com (Jakarta) – Tren hunian berbasis transit oriented development (TOD) semakin mengemuka. Kemudahan akses terhadap jaringan infrastruktur serta transportasi publik, menjadi  daya pikat yang coba ditawarkan oleh konsep tempat tinggal tersebut.

Beberapa pengembang mulai merambah ke proyek pembangunan hunian berkonsep transit oriented development di wilyah Jakarta dan sekitarnya.

Pengamat tata kota, Yayat Supriatna mengatakan pengembangan hunian berkonsep transit oriented development akan memberikan sejumlah keuntungan bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya, seperti kelancaran mobilitas, kepastian waktu serta nilai properti yang terus melaju naik

Baca Juga : Sinergi BUMN Kembali Bangun Tiga Proyek TOD di Jakarta

Akan tetapi, Yayat menyoroti kondisi pembangunan dari proyek tersebut yang dinilai tidak sinkron dan masih harus disempurnakan.

Ia mencontohkan beberapa proyek transit oriented development di Bekasi dibangun di lingkungan pemukiman dengan akses jalan yang kecil dan tidak terintegrasi dengan angkutan umum.

“Jadi, penghuni turun dari situ (masih naik) ojeg online,” kata Yayat ketika ditemui RumahHokie.com di sela seminar bertajuk “Menatap Masa Depan Jakarta” yang diselenggarakan Perhimpunan Studi Pengembangan Wilayah, Rabu (20/2/2018)

Belum lagi, banyak pengembang properti TOD yang dirasa kurang menjalin komunikasi dan mengajak kerjasama Pemerintah Daerah serta pihak-pihak terkait lainnya, dalam pembangunan proyek tersebut.

Baca Juga : Menhub Undang Perusahaan Swasta untuk Pengembangan Proyek TOD

Pria yang juga menjadi dosen Teknik Planologi di Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti ini kembali menjelaskan, idealnya proyek transit oriented development dibangun dengan mengacu pada tata ruang perkotaan.

“Di tata ruang itu ada struktur ruang dan pola ruang. Struktur ruang itu berbicara pusat kegiatan dan jaringan pelayanan, seperti jalan raya, jaringan air bersih, listrik dan sebagainya. Jadi, ketika masyarakat tinggal di kawasan TOD dengan fasilitas lengkap tentu tidak terbebani.

Yayat menilai, yang terjadi sekarang, ketika menetapkan kawasan TOD lebih banyak mengedepankan sisi kepentingan bisnis dari pemegang kuasa atas pembangunan jalur LRT.

“Duduklah bareng-bareng dengan Pemerintah Daerah. Ajak pula Dinas perhubungan, PT KAI juga agar muncul sinergi. Karena proyek TOD itu bukan rebutan area atau rebutan ketinggian,” pungkasnya.

Adhitya Putra Pratama
adhitya.putra@rumahhokie.com

Please follow and like us:

Silakan Beri Komentar

Komentar Anda